| Ketika Eric Awuy Memimpin Orkes Remaja Baru |
|
Ketika Eric Awuy Memimpin Orkes Remaja Baru
PENCINTA musik klasik di Indonesia mengenal Eric Awuy sebagai peniup trompet ulung. Setelah mulai belajar musik pada usia dini dengan ibunya sendiri, Eric masuk ke sekolah musik pada usia 5 tahun di Jerman, dan pada usia 15 tahun ia memutuskan untuk main trompet. Instrumen inilah yang ia pelajari secara mendalam di Hull Music Conservatory (1979-1985) dan berikutnya di Montreal Music Conservatory (1985-1988), keduanya di Kanada. Dengan memainkan trompet ini Eric telah menyusuri perjalanan panjang, antara lain ambil bagian dalam ansambel maupun orkestra, seperti di Montreal Symphony Orchestra dan Philharmonia Brass Ensemble serta I Musici. Tetapi di luar itu, ternyata Eric punya bakat lain, yakni sebagai konduktor. Ia pernah jadi konduktor tamu di Notre-Dame College Orchestra, World Youth orchestra, dan Indonesian Youth Orchestra. Terakhir, seperti yang ia lakukan sabtu (5/3) lalu di Balai Sarbini Jakarta, Eric menjadi konduktor Twilite Youth Orchestra (TYO). Memimpin orkestra untuk remaja belia yang didirikan Addie MS ini, aba-aba Eric selain gamblang juga enak dipandang. Kesan ini pula yang disampaikan oleh dirigen koor Joseph Suryadi yang petang itu juga ikut menonton pergelaran perdana TYO. Saat itu tercermin pula peran Eric yang lebih dari sebagai konduktor dan pendidik, hal yang juga pernah ia lakukan sebelum ini di Kanada dan Indonesia. Sebagai orkestra yang baru terbentuk, tentu saja di sana-sini masih terdapat kekurangan. Agregat bunyi yang diproduksi TYO masih belum sebanding dengan sekitar 60 instrumen yang ambil bagian. Di bagian pertama, baru setelah nomor ketiga-karya Leroy Anderson, The Typewriter-TYO terasa hidup. Staminanya pun belum cukup besar untuk diminta memainkan 12 karya. Itu sebabnya, ketika Eric memainkan karya favoritnya, Nimrod dari Enigma Variations karya Elgar, TYO sudah lemas. Intonasi pada instrumen gesek pun terdengar sudah lari-lari. Aba-aba Eric tampak sudah menurun efektivitasnya. Tetapi dengan ketekunan Eric, dan tentu saja Addie MS, TYO akan cepat berkembang. Pertanyaannya, apakah TYO akan diarahkan mengikuti jejak saudara tuanya-Twilite Orchestra-yang lebih menyukai genre popstravaganza? Ini karena mendengar karya-karya yang dimainkan TYO, di luar lagu-lagu Ibu Soed dan AT Mahmud, persis dengan TO? Di luar itu, prakarsa Addie MS, Eric Awuy, ke depan memang akan potensial membawa musik fimfonik ke usia remaja. TYO yang petang itu diperkuat oleh Paduan Suara Anak Bangsa di bawah arahan Luciana Oendoen tengah merintis satu kultur baru bagi remaja Indonesia. Hadirnya dirigen senior Adidharma, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, pianis Ananda Sukarlan, Prof Dr Subroto, serta dukungan kuat dari perusahaan swasta, tentunya membesarkan hati para pemusik belia di TYO. (nin)
Newer news items:
Older news items:
|


