| Twilite Youth Orchestra, Sebuah Negeri Mungil |
Jakarta, Kompas oleh Slamet A SjukurSEBUAH lagi orkes lahir di Indonesia. Namanya Twilite Youth Orchestra, dengan pemain-pemain remaja dan konduktor ganteng Eric Awuy. Bukan cuma ganteng, dia pemimpin orkes terbaik yang kita punyai waktu ini. Suatu usaha yang tak ternilai dan nyata dari Twilite Orchestra untuk memasyarakatkan orkes simfoni di sini.
Sudah itu Canon karya Johann Pachelbel (1653-1706). Musik yang hanya punya satu tema yang diulangi terus-menerus sampai akhir. Musik yang sangat bersahaja, namun menuntut kreativitas yang luar biasa untuk mengolahnya agar tidak membosankan. Awuy sang konduktor bercerita lebih dulu bahwa pada zaman Pachelbel di abad ke-17, orkes belum punya konduktor seperti sekarang. Dan sungguhan, Awuy turun panggung membiarkan orkesnya main sendiri. Sangat bagus. Sesuatu yang mengagumkan dari orkes remaja yang baru lahir Agustus tahun lalu. Dua karya berikutnya oleh "komponis tak dikenal yang paling terkenal": Leroy Anderson (ensiklopedi Hachette 2000 juga tidak menyebutnya). Sebuah Plink, Plank, Plunk! atau pling-plang-plung nya pizzicati instrumen dawai yang lucu, menawan dan cerdas. Tak kalah hebatnya, Awuy bisa membuat orkes ini main-main dengan pianissimo yang amat lembut dan memukau. Keliru kalau kita membuat citra standar remaja yang hanya bisa ingar-bingar. Disusul The Typewriter yang inspirasinya dari bunyi ketak-ketik mesin-tulis, yang dulu punya ciri khas jika dibandingkan dengan kibor komputer sekarang yang menurut Awuy tidak punya rasa. Leroy Anderson bukan filsuf seperti Wagner, dia lebih asyik terhadap hal-hal kecil sehari-hari dan memperlakukannya dengan penuh kasih dan rasa hormat. Komponis Amerika ini berdarah Swedia, pantesan beda sekali dari orang-orang Texas.... Berikutnya Paduan Suara Anak Bangsa yang baru berusia 4 tahun. Mereka berasal dari hasil saringan Program Bimbingan Anak (PBA) Sampoerna dari sejumlah siswa sekolah dasar dan panti asuhan di pinggiran Jakarta. Mereka menyanyikan medley (gado-gado) Menanam Jagung, Kupu-kupu Kecil, dan Lihat Kebunku karya Ibu Sud dan At Mahmud yang digarap orkestrasinya oleh Meidy Ratnasari. Kegembiraan menyanyi-bersama anak-anak ini mengharukan. Satu potensi yang perlu diasuh lebih lanjut agar nantinya mereka akan mendapatkan kegairahan yang lebih lagi kalau mereka bisa bernyanyi polifoni a cappella. Di Hongaria, pendidikan musik melalui paduan suara polifoni sejak tahun 1948 diwajibkan pada seluruh jenjang pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan-tinggi. Mereka sudah membuktikan bahwa ini cara terbaik untuk keseimbangan intelektual, emosional, sosial (rasa kebersamaan), dan biologis (langsung menyangkut pernapasan dan metabolisme pencernaan). Datanglah Hantu Gedung Opera suite karya Andrew Lloyd Webber. Menakutkan, tetapi di sana-sini ada getaran yang menghanyutkan. Sulit untuk diurai, tapi para remaja yang memainkannya itu tidak sedikit pun mengesankan kehilangan arah. Ini berkat pemimpinnya yang tahu apa yang mesti dilakukan. Seorang komponis dan konduktor Perancis, Pierre Boulez, pernah bilang bahwa orkes yang jelek itu tidak ada, yang ada justru konduktor yang kompeten atau tidak. Istirahat 20 menit, sudah itu Eine Kleine Nacht Musik Mozart. "Lagu itu lagi, lagu itu lagi," demikian komentar di dalam hati sewaktu membaca buku acara. Setelah musiknya mengumandang, perasaan jadi lain: "Nah inilah... ( antara lain )". Dan Brahms (Tarian Hongaria No 5) lain lagi. Jelas bukan Mozart. Brahms menggali jiwa zigeuner atau gipsi, yaitu ras petualang asal India yang tersebar di Eropa, murung, berat, tiba-tiba berkobar seperti api cinta yang tak terjinakkan. Orkes berhasil menghadirkan kontras dalam tempo, dinamika dan warna suara orkes. Juga perhentian-perhentian yang mendadak. Tapi kurang pas dalam memulai pergantian tempo yang perlu laju sedikit demi sedikit, seperti kereta-api yang tidak "pantas" kalau langsung cepat. Marcella AL Kemala yang baru berusia 15 tahun, dan murid biolonis Adidharma, memainkan Meditasi karya Massenet diiringi orkes. Sama sekali tidak mengecewakan, intonasi, kualitas nada, dan kehangatan vibratonya bagus, sekalipun ada saat- saat kurang percaya diri yang mengakibatkan biolinnya ngringik, di samping penjiwaan meditasi yang memang membutuhkan waktu. Satu-satunya kekurangan yang mencolok dalam pergelaran Sabtu itu ialah ketika mereka memainkan Salut d’Amour (Salam Cinta)-Elgar. Bassoon dan nyaris seluruh instrumen tiup kayu keluar rel. Dan Awuy tetap tersenyum sebagai pelindung yang penuh pengertian. Karya Elgar lainnya adalah Nimrod (dari Enigma Variations) yang jauh lebih kompleks dari Salut d’Amour malah dapat disuguhkan dengan bagus. Begitu pula Suite Lord of the Ring karya Howard Shore. TYO tidak ubahnya dari sebuah negeri mungil. Berbagai unsur terlibat di situ: para anggota orkes, pemimpinnya, para pelatihnya, manajemen yang pasti tidak sederhana, sampai-sampai orangtua pemain yang membentuk sebuah asosiasi agar dapat berperan aktif. Programnya jelas (pergelaran untuk umum dan mendatangi sekolah-sekolah), repertoarnya berani menawarkan musik-musik yang tidak terkenal di sini, dan bahwa Twilite Orchestra yang dipimpin Addie Ms mampu dengan cara yang anggun merangkul pihak-pihak yang potensial untuk kehidupan musik di Tanah Air. Kita yang punya negeri kaya, tetapi tidak mampu mengelolanya, mesti bersyukur masih ada komunitas seperti Twilite Orchestra. Slamet A Sjukur Komponis
|
Konser perdana Twilite Youth Orchestra (TYO) berlangsung Sabtu 5 Maret 2005 di Balai Sarbini Jakarta. Acara dimulai dengan overtur opera "Mozart Pernikahan Figaro". Baru beberapa detik dimulai sudah terasa ada sesuatu "yang tidak normal" menurut ukuran yang lazim bagi telinga pencinta musik klasik di negeri kita. Orkes ini terhindar dari politonalitas yang tidak sengaja, yang biasanya disebabkan oleh ketidakcermatan konduktor mendengarkan "nada yang betul" . Selain itu, TYO juga terasa "paham" gaya Mozart, temponya yang punya jiwa Mozart, perubahan-perubahan dinamikanya, dan pernapasan kalimat-kalimat musiknya: Yang Mozart! Tidak asal bernapas.
