Simfoni dalam Perbedaan
Kompas, Kamis, 6 Agustus 2009
Oleh Agnes Aristiarini

Setelah beberapa kali berhenti, akhirnya musik mengalun penuh.

Solo tuba melengking bersama kontrabas, menggambarkan kerja keras seorang ksatria muda yang demi cinta ikut kontes menyanyi Master Singer, asosiasi penyair dan pemusik amatir abad ke-14-15 di Jerman.

Inilah ”The Master Singer of Nuremberg-Prelude to Opera” karya Richard Wagner.

Dimainkan oleh puluhan remaja anggota Twilite Youth Orchestra, konduktor Eric Awuy memang bolak-balik menghentikan musik begitu nadanya kurang pas. ”Saya mau dengar kelompok biola satu saja,” katanya.

kompas

”Sekarang biola dua.”

”Gesek sampai penuh ya. Ingat, kita main bukan untuk diri sendiri. Suaranya harus sampai ke ujung ruangan,” ujar Eric.

Lima tahun lalu ketika memulai kelompok musik ini, ia harus bekerja keras menyelaraskan nada dan irama. Maklumlah, anggota datang dari berbagai kalangan dan baru saling kenal saat latihan. Tugasnya kini lebih ringan meski anggotanya silih berganti. ”Yang baru masuk ikut bergerak dalam sistem karena mesinnya sudah jalan,” kata Eric pekan lalu.

Sebagai orkes remaja, Twilite Youth Orchestra—populer sebagai TYO, dibaca ti-whai-o—sulit punya anggota abadi. Begitu lulus SMA, anggota yang melanjutkan studi di luar Jakarta tak mungkin berlatih rutin.

Rafadi Hakim adalah salah satunya. Pemain biola lulusan SMA Sevilla ini akhir Agustus berangkat ke AS. Ia mendapat beasiswa Carleton College di Northfield, Minnesota. Setahun sebelumnya, peniup klarinet Dwina Marshanda dari SMAN 8 diterima di Institut Teknologi Bandung.

Gara-gara itu pula, setiap tahun ada anggota baru. Dengan sistem audisi yang hanya menguji kemampuan bermusik, juri dengan peserta audisi tidak berkomunikasi. Dari balik sekat, juri mendengarkan peserta memainkan lagu wajib, lagu pilihan, dan sight reading—memainkan partitur yang tidak diinformasikan sebelumnya.

Maka hadirlah kebinekaan yang sesungguhnya. Ada anggota yang siswa SMAN 70, SMA Al Azhar, SMA Theresia, Bina Bangsa School, Mahatma Gandhi School, Indo-Turkish School, Universitas Indonesia, Universitas Atma Jaya, juga Swiss-German University.

”Saya ingin punya pengalaman bermusik kelompok,” kata Rafadi yang menjadi anggota sejak 2006.

Beberapa kemampuan bermusik memang lebih terasah lewat orkes. Sebutlah mengikuti aba-aba, ritme, atau menghasilkan harmoni dengan anggota lainnya. ”Lebih asyik lagi karena temannya banyak dan macam-macam,” ujarnya.

Diilhami kerusuhan

Ketika ”kakak” TYO, Twilite Orchestra, yang berdiri 1991 selalu kesulitan mencari musisi, terpikir untuk ke sekolah-sekolah mengenalkan musik klasik. ”Harapannya muncul bibit dari sana,” kata Addie MS, pendiri TYO.

Sayang program terbentur biaya karena sekali datang perlu 8-14 musisi profesional. Padahal, dari sekolah pinggiran, negeri, pesantren, sampai sekolah internasional pernah dikunjungi.

Muncullah ide orkes remaja, yang makin kuat ketika kerusuhan 1998. Bermain musik bersama bisa meredam sikap-sikap yang menyerang perbedaan. ”Di orkestra minimal ada empat kelompok alat musik: gesek, tiup kayu, tiup logam, perkusi, dengan bunyi yang berbeda-beda. Di tangan konduktor, perbedaan berpadu menjadi sinergi dahsyat,” kata Addie.

Meskipun TYO baru terwujud 8 Agustus 2004, kebersamaan terus bertumbuh. Ketika truk alat-alat perkusi datang, misalnya, siapa pun yang ada sigap mengangkut dan menatanya di ruang latihan. Mereka yang datang awal segera menata kursi sesuai kebutuhan semua anggota.

Seperti halnya latihan menari atau sepak bola, TYO adalah sarana pengembangan diri. Belajar musik klasik mendorong untuk terus membaca: dari partitur, biografi komposer, sampai sejarahnya. Di orkes ada disiplin, akurasi, tetapi terbuka terhadap perbedaan interpretasi.

”Saya bersyukur bertemu Eric Awuy yang penuh dedikasi dan Sampoerna yang mendanai dua tahun pertama,” ujar Addie.

Tantangannya adalah menjaga TYO tetap di jalurnya. ”Kami tak menerima job untuk pengantin misalnya. Kalaupun ada tawaran pentas, utamanya tetap mengembangkan kemampuan bermusik klasik dan mengenalkan ke masyarakat,” kata Addie.

Ini yang terus diasah lewat berbagai cara. September 2007 TYO mengiringi Susvara Opera Company mementaskan ”La Boheme”. Tahun lalu ada studi banding ke Singapore National Youth Orchestra. Ketika Orkes Symphonia Vienna datang ke Jakarta, ada master class—pendalaman keterampilan bermusik dengan pemain orkestra asing. Tak jarang pula konduktor tamu diundang untuk memperkaya wawasan.

Tiadanya larangan bagi anggota bermain di orkes lain membuat TYO seperti wahana jaringan bermusik. Andrea misalnya, siswa SMA Santa Ursula yang bermain trombon, pernah memperkuat pergelaran orkestra Universitas Pelita Harapan. Atau Thressia, penabuh perkusi alumnus Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti, yang sering ikut konser Twilite Orchestra.

Dana terbatas

Konsistensi di pendidikan ada konsekuensinya. Tiadanya sponsor sejak tiga tahun lalu membuat keuangan orkes remaja ini sepenuhnya bergantung pada iuran anggota. Hasil iuran rata-rata Rp 300.000 per bulan hanya pas untuk sewa tempat latihan, sewa alat, konsumsi, dan biaya pelatih. Dari 55 anggota, sebagian yang tak mampu dibebaskan iuran bulanan.

Makanya sedikit sekali orkes remaja dengan keanggotaan terbuka bisa bertahan di Indonesia. Kebanyakan adalah orkestra sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Biaya operasional yang mahal jadi kendala, juga di berbagai orkes remaja maupun profesional negara maju. Bedanya di sana ada tradisi berorkes sampai di tingkat kecamatan. Meski subsidi pemerintah tak besar, banyak perusahaan mau mendanai karena ada insentif keringanan pajak.

Tak mengherankan bila menjelang pergelaran di Hotel Indonesia Kempinski, 17 Agustus, orangtua ikut pontang-panting mencari dana tambahan. Saat anak-anaknya berlatih overtures—musik pembuka menuju pertunjukan musik yang lebih megah—mereka rapat untuk menutup kebutuhan.

Apa boleh buat, semua demi tujuan yang lebih besar. Apalagi ketika hati bergetar mendengar ”Indonesia Raya” berkumandang. Sungguh, simfoni dalam perbedaan itu berawal dari sini.

logo_kompascom

 

Add comment


Security code
Refresh